WORKSHOP
PT. Greenliving Indonesia membangun fasilitas manufaktur (workshop) di desa Jarak, Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah. Workshop ini menjadi fasilitas pengelolaan hutan berbasis masyarakat, pertama di Indonesia, dan dengan sertifikasi SFM (Sustainanle Forest Management). Workshop kami dibangun untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan ekonomi para petani hutan yang secara traditional mampu mengubah degraded land menjadi lahan hutan jati dan mahagony yang subur. Dengan berbagai penyuluhan dan pelatihan keterampilan, kini mereka mampu menghasilkan final product berkualitas dengan kayu dari hutan tersertifikasi yang mereka miliki.

Masyarakat Selopuro & Sumberejo
SELOPURO
Desa Selopuro adalah desa yang berada di kecamatan Batuwarno kabupaten Wonogiri yang terletak 50 km kearah tenggara dari kota Wonogiri. Menurut monografi desa tahun 2003, desa Selopuro memiliki luas 646,5 ha diperuntukan untuk lahan sawah tadah hujan 69 ha, pekarangan 91,5 ha, tegalan 250 ha, ta hutan negara 240 ha dan lain-lain 4 ha.
Desa yang berpenduduk 1.803 jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 897 (49,7 %) jiwa dan perempuan sebanyak 906 (50,3) jiwa. Sebagian besar daerahnya tandus, kering dan berbatu seperti desa-desa lainnya di wilayah selatan kabupaten Wonogiri. Dengan kondisi demikian tidak mengherankan kalau daerah ini dikategorikan daerah IDT dan banyak masyarakat khususnya generasi muda bermigrasi dan bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Solo dsb. Matapencaharian masyarakat sebagian besar bekerja sebagai buruh bangunan, buruh industri dan buruh tani. Gambaran jenis matapencaharian tersebut menggambarkan masyarakat berpenghasilan rendah dengan kondisi ekonomi rumah tangga sangat miskin
Mengandalkan hasil pertanian saja masyarakat Selopuro tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya, sehingga mencari tambahan penghasilan sebagai buruh ke kota merupakan cara untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Sementara memelihara ternak ( sapi, kambing, ayam) adalah usaha sampingan untuk menambah pendapatan keluarga. Di desa ini dikenal hutan rakyatnya dengan tanaman jati dan mahoni.
Kedua jenis tanaman tersebut telah menyatu dengan masyarakat Selopuro, baik yang ditanam di pekarangan maupun tegalan. Kurang lebih 70 % tegalan menjadi hutan rakyat dan pekarangan sekitar 50 % karena sebagian untuk bangunan. Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam penghijauan cukup baik.
Di Selopuro ada Kelompok Tani Hutan Rakyat sebanyak 5 KHR, tetapi hanya ada 4 KHR yang cukup baik dan representatif. Ke 4 KHR tersebut berada di dusun Jarak, Sudan, Pagersengon dan Selorejo dan keanggotaanya adalah masyarakat yang memiliki lahan pertanian (sawah, dan tegalan). Dalam pengembangan kelompok masing-masing kelompok memiliki otonomi sendiri-sendiri untuk mengelola hutan rakyat, tetapi di tingkat desa kelompok Percabaan Pagersengon yang mewakili KHR dan yang lebih dikenal oleh kalangan luas. Dengan keberhasilan masyarakat mengelola hutan rakyat, desa Selopuro sering dikunjungi untuk studi banding, baik dari Kabupaten lain di Jawa dan luar jawa, Perguruan Tinggi dan Lembaga-lembaga masyarakat untuk melihat keberhasilan hutan rakyat dan banyak piagam penghargaan yang telah diberikan kepada KHR berkenaan keberhasilan dalam mengelola hutan rakyat tersebut. Masyarakat sebagai anggota kelompok (KHR) bertekad untuk mempertahankan hutan rakyat sebagai penghijauan dan salah satu sumber pendapatan keluarga
Dari sisi sejarah, wilayah Selopuro sebagian besar lahannya tandus, berbatu dan tidak subur dan yang tumbuh hanya rumput sebagai padang gembala ternak sapi dan kambing, meskipun juga ada lahan yang bisa ditanami tanaman pangan, tetapi tidak luas dan hasilnya juga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Melihat kondisi demikian sekitar tahun 1978, masyarakat mulai menaman jati atau mahoni dengan kesadarannya sendiri, Masyarakat mencari bibit sendiri kemudian menanam dilahan miliknya pada musim penghujan. Bersamaan dengan itu dicanangkan pekan penghijauan nasional oleh Presiden Suharto dan pemerintah mendorong dengan upaya penghijauan tersebut dengan memberikan bibit mahoni dan jati. Dari tahun ketahun didorong oleh semangat yang tinggi membangun lingkungan dan hutan, Selopuo kini menjadi wilayah berhutan yang subur dan mendatangkan mataair sepanjang musim.
Tahun 2004, Desa Selopuro telah mendapat sertifikat Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari dari PT Mutuagung Lestari. Dengan itu, Desa ini telah diakui sebagai Desa yang memenuhi standar pengelolaan hutan lestari yang berprinsip pada kelestarian ekonomi, ekologi dan sosial yang mampu menjual kayu bersertifikat ekolabel.
SUMBEREJO
Desa Sumberejo secara administratif masuk ke wilayah Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah. Jaraknya 3 km dari ibukota kecamatan dan 52 km dari ibukota kabupaten. Luas wilayah Desa 547 ha. Topografinya desa adalah perbukitan dengan struktur tanah yang didominasi batuan gamping sebagai ciri khasnya. Sedangkan jenis tanahnya banyak menunjukan jenis tanah litosol mediteran coklat basa. Kondisi geografis dan struktur geologis dengan batuan kapur berlapis-lapis memberikan kesan bahwa daerah ini tampak sebagai kawasan batu bertanah. Tanah hanya sedikit terlihat di celah-celah batu.
Desa ini berada 293 meter diatas permukaan laut dengan sungai utama adalah Kalinekuk sepanjang 2 km, yang ujungnya dijadikan bendungan lokal untuk membantu penyediaan air minum bagi wilayah kecamatan Baturetno. Desa ini masuk dalam tipe iklim C menurut kategori Schmidt dan Ferguson dan ini menunjukan bahwa Sumberejo merupakan kawasan lahan kering (data klimatologi tahun 1999).
Tipe penggunaan lahan untuk pekarangan 109 ha, tegalan 419 ha, sawah dengan irigasi setengah teknis dan sederhana 9 ha, rawa 3 ha, lain-lain (jalan, kuburan dan fasilitas umum) 7 ha. Tidak terdapat hutan negara di wilayah ini. Semua kegiatan pertanian dan pengembangan hutan dilakukan di lahan hak milik masyarakat.
Penduduk Desa Sumberejo hingga akhir Desember 2002 berjumlah 2.219 jiwa, terdiri 1.140 (51,3%) perempuan dan 1.079 (48,7) laki-laki dengan jumlah sebanyak 631 KK jodohan ( pasangan keluarga) yang bermukim pada 540 rumah. Dengan demikian terdapat 91 pasangan keluarga yang bertempat tinggal satu rumah dengan keluarga lain.
Secara sosial ekonomi, pekerjaan utama masyarakat Desa Sumberejo adalah petani (970 jiwa atau 89,32%), dengan 879 jiwa (80,94%) petani dan 91 jiwa (8,38%) buruh tani. Pekerjaan lainnya adalah pengusaha 6 orang (0,55%), 12 orang (1,10%) buruh industri, buruh bangunan 32 orang (2,94%), pedagang 10 orang (0,92%), guru 18 orang (1,65%), dan pegawai negeri/ABRI 13 orang (1,19%), selebihnya adalah pegawai swasta dan lain-lain 25 orang (2,30%). (Sumber: Data Potensi Desa Sumberejo)
Tahun 2004, Desa Sumberejo telah mendapat sertifikat Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari dari PT Mutuagung Lestari. Dengan itu, Desa ini telah diakui sebagai Desa yang memenuhi standar pengelolaan hutan lestari yang berprinsip pada kelestarian ekonomi, ekologi dan sosial yang mampu menjual kayu bersertifikat ekolabel.